IHSG Dibuka Turun Tertekan oleh Pelemahan Bursa Asia-Pasifik dan Wall Street

Jakarta – IHSG memulai perdagangan pada hari Jumat, 11 September 2026, dengan penurunan sebesar 36 poin atau sekitar 0,55 persen, berada di level 6.552.
Fanny Suherman, yang menjabat sebagai Kepala Analis Riset Ritel, memperkirakan bahwa IHSG akan terus mengalami penurunan pada sesi perdagangan hari ini.
“Dipicu oleh kenaikan signifikan dalam harga minyak dunia dan kemungkinan The Fed untuk menaikkan suku bunga, IHSG berpotensi melanjutkan tren pelemahan hari ini,” jelas Fanny dalam laporan riset harian yang dirilis pada Jumat, 11 September 2026.
Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik juga mengalami penurunan pada perdagangan Kamis kemarin, seiring dengan meningkatnya ketegangan dalam jalur pelayaran akibat konflik yang meluas di Timur Tengah.
Kondisi ini telah membuat harga minyak mentah bertahan di atas level US$100 per barel, yang pada gilirannya menambah kekhawatiran investor akan lonjakan inflasi. Untuk minyak mentah Brent, harganya tercatat sebesar US$101,4 per barel.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 dan Topix mencatatkan kenaikan sebesar 0,2 persen. Namun, KOSPI di Korea Selatan mengalami penurunan sebesar 0,25 persen, meskipun KOSDAQ berhasil naik 0,8 persen.
Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong melemah 1,3 persen, Taiex di Taiwan turun 0,5 persen, dan ASX 200 di Australia menyusut 1,03 persen. Dalam waktu dekat, The Fed dan Bank of Japan (BOJ) dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan kebijakan yang dinanti-nanti.
Departemen Keuangan AS juga mengumumkan rencana buyback obligasi jangka panjang senilai US$6 miliar. Namun, keputusan ini mengecewakan beberapa investor yang berharap adanya buyback dalam jumlah yang lebih besar.
“Support IHSG berada di rentang 6.530 hingga 6.570, sedangkan level resistennya berkisar antara 6.600 hingga 6.620,” ungkap Fanny.
Di sisi lain, Wall Street juga mengalami tekanan, di mana indeks S&P 500 turun 0,58 persen, Nasdaq mengalami penurunan sebesar 0,65 persen, dan Dow Jones Industrial Average berkurang 0,60 persen pada perdagangan Kamis.
Penurunan ini terjadi akibat lonjakan harga minyak dan data inflasi produsen yang memicu kekhawatiran pasar mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed. Kenaikan yield obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Selain itu, penurunan tersebut juga disebabkan oleh lonjakan harga minyak Brent yang meningkat sekitar 6 persen menjadi US$107 per barel. Gangguan pada jalur pasokan di Selat Hormuz dan Laut Merah semakin memperburuk kekhawatiran mengenai tekanan harga energi yang dapat kembali mendorong inflasi.




