bisnis

Aturan Tembakau Diperketat, 90 Persen Responden Tunjukkan Pergeseran Pasar yang Signifikan

Rencana pemerintah untuk memperketat regulasi terkait produk tembakau berpotensi mengubah perilaku konsumen dan dinamika pasar. Proses pengaturan ini sedang dirumuskan sebagai bagian dari regulasi turunan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 mengenai Kesehatan.

Regulasi produk tembakau mencakup ketentuan tentang penggunaan bahan tambahan dan perisa, serta batasan kadar tar dan nikotin. Kebijakan ini merupakan langkah pemerintah dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat, termasuk mengurangi tingkat prevalensi merokok di Indonesia.

Di tengah proses pembahasan regulasi ini, penelitian yang dilakukan oleh Litbang menunjukkan bahwa terdapat kemungkinan perubahan dalam pilihan konsumen jika karakteristik produk yang biasa mereka konsumsi mengalami perubahan atau tidak tersedia.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 38 persen responden akan beralih ke rasa lain dari merek yang sama jika rasa yang biasa mereka pilih tidak lagi tersedia. Sementara itu, 34 persen responden menyatakan bahwa mereka akan mencari merek lain yang menawarkan rasa serupa.

“Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan dalam ketersediaan produk dapat menyebabkan konsumen beralih ke produk atau varian lain,” demikian dikutip dari siaran pers yang dirilis pada Kamis, 17 September 2026.

Riset ini juga mengidentifikasi bahwa bahan tambahan menjadi salah satu pertimbangan penting saat memilih produk rokok. Sebanyak 70 persen responden menyatakan bahwa bahan tambahan itu signifikan dalam menentukan pilihan mereka.

Perubahan dalam pilihan konsumen juga berhubungan dengan maraknya produk ilegal. Sekitar 90 persen responden dalam riset menyatakan bahwa mereka mungkin akan beralih ke rokok ilegal jika varian rasa tertentu dilarang.

Walaupun demikian, angka tersebut menggambarkan persepsi responden tentang kemungkinan perpindahan ke produk ilegal, bukan data yang menunjukkan perpindahan nyata. Temuan kualitatif dalam riset menunjukkan bahwa baik konsumen maupun pedagang yang diwawancarai cenderung menghindari produk ilegal.

Riset ini juga meninjau pandangan responden terkait efektivitas dan penerapan pembatasan bahan tambahan. Hanya 21 persen responden yang menilai bahwa pembatasan bahan tambahan tersebut efektif dalam mengurangi konsumsi rokok, sementara mayoritas lainnya menunjukkan ketidakpastian.

Di sisi lain, tantangan dalam penerapan aturan ini menjadi sorotan. Sebanyak 87 persen responden menganggap bahwa penerapan pembatasan bahan tambahan cukup sulit atau sangat sulit untuk dilakukan.

“Persepsi responden menunjukkan bahwa walaupun 21 persen menilai pembatasan bahan tambahan efektif dalam mengurangi konsumsi, mayoritas lainnya meragukan efektivitasnya. Sementara itu, 87 persen responden merasa bahwa penerapan pembatasan tersebut menghadapi banyak kesulitan,” ungkap hasil riset tersebut.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k