berita

Peran Kritis Perempuan dalam Memperkuat Ketahanan Menghadapi Krisis Iklim di Indonesia

Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kelestarian hutan serta memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak krisis iklim. Mereka menjadi penggerak utama dalam praktik perhutanan sosial yang berkelanjutan, yang merupakan langkah krusial dalam mengatasi perubahan iklim.

Salah satu isu penting yang diangkat dalam buku berjudul Echoes of Partnership, yang diterbitkan oleh KONEKSI (Platform Kemitraan Pengetahuan Australia-Indonesia). Buku ini mencakup hasil kolaborasi riset antara Indonesia dan Australia untuk mengatasi tantangan iklim yang semakin kompleks.

Melalui 20 proyek penelitian kolaboratif, Echoes of Partnership mengungkapkan bahwa solusi terhadap masalah iklim sangat bergantung pada teknologi, kebijakan, dan partisipasi berbagai pihak dalam proses tersebut. Keterlibatan kelompok yang selama ini kurang terwakili, termasuk perempuan, sangat penting dalam menciptakan solusi iklim yang lebih inklusif dan berpengaruh.

Dr. Lilis Mulyani, seorang peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan bahwa partisipasi perempuan dalam perhutanan sosial memberikan dampak yang signifikan, baik untuk keberlanjutan ekosistem maupun kesejahteraan masyarakat.

Dalam penelitiannya yang berjudul Evaluating the Contribution of Social Forestry Management Rights towards Climate Proof Livelihoods of Women and Men in Indonesia, ia menemukan bahwa perempuan sering kali berada di garis depan dalam usaha melestarikan hutan.

“Di banyak lokasi, terdapat sosok perempuan yang menjadi pemimpin. Selain berperan aktif dalam melindungi hutan dari praktik penebangan liar, perempuan juga terlibat dalam upaya merawat dan menjaga keberlanjutan hutan,” ungkap Lilis pada acara peluncuran buku Echoes of Partnership di Jakarta, yang diadakan pada 10 April 2026.

Secara teori, peraturan mengenai perhutanan sosial seharusnya memberikan ruang yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Hal ini terlihat dalam Peraturan Menteri Kehutanan yang dikeluarkan pada tahun 2021 dan 2024. Namun, dalam praktiknya, kesetaraan tersebut belum sepenuhnya terwujud di lapangan.

Lilis menambahkan bahwa partisipasi perempuan dapat meluas hingga upaya pelestarian biodiversitas, sementara laki-laki cenderung lebih terlibat dalam aspek ekonomi dari pemanfaatan hutan. Untuk itu, ia mendorong adanya kebijakan yang lebih afirmatif, termasuk penetapan target partisipasi perempuan dalam perhutanan sosial sebesar 20-30 persen.

Penelitian lain yang dibahas dalam buku Echoes of Partnership menyoroti pentingnya kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan dengan masyarakat lokal dalam mendorong transisi menuju ekonomi sirkular yang lebih tangguh dalam menghadapi perubahan iklim.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k