Iran Tegaskan Berkomunikasi dengan Utusan Khusus AS, Namun Tak Ada Negosiasi

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, baru-baru ini mengonfirmasi adanya komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat. Komunikasi ini berlangsung baik secara langsung maupun melalui negara-negara di kawasan Teluk, di tengah ketegangan yang terus meningkat antara AS, Israel, dan Iran.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Araghchi menekankan bahwa meskipun ada komunikasi yang terjadi, hal tersebut tidak menunjukkan bahwa Iran sedang terlibat dalam negosiasi dengan Washington.
“Saya telah menerima pesan dari utusan khusus AS, Steve Witkoff, secara langsung, sama seperti sebelumnya, namun itu tidak berarti kami sedang dalam proses negosiasi,” ungkapnya, seperti yang dilaporkan pada Rabu, 1 April 2026.
Araghchi juga membantah adanya klaim mengenai perundingan dengan pihak manapun. Ia menjelaskan bahwa semua pesan yang diterima disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri atau diterima oleh lembaga tersebut, meskipun komunikasi antar badan keamanan tetap berlangsung.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak memiliki pengalaman positif dalam bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Araghchi merujuk pada kesepakatan yang pernah dicapai beberapa tahun lalu, yang kemudian dibatalkan sepihak oleh AS, yakni perjanjian nuklir tahun 2015 (JCPOA).
“Kami tidak percaya bahwa negosiasi dengan AS akan membuahkan hasil. Tingkat kepercayaan kami nol,” tegasnya. “Kami tidak melihat adanya itikad baik dari pihak mereka.”
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga menyatakan pandangannya yang senada. Pada hari Selasa, ia mengungkapkan bahwa AS tidak memiliki kepercayaan yang tulus terhadap diplomasi, mengingat Iran telah mengalami serangan dua kali di tengah proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran ingin mengakhiri konflik, tetapi memerlukan jaminan untuk mencegah terulangnya serangan.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam konferensi pers pada hari yang sama menyatakan bahwa Washington berusaha mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, ia juga menegaskan bahwa AS siap untuk melanjutkan negosiasi bahkan dengan pendekatan yang lebih agresif jika diperlukan.
Terkait dengan Selat Hormuz, Araghchi menjelaskan bahwa jalur perairan tersebut terletak di wilayah Iran dan Oman, sehingga wajar jika dijadikan sebagai jalur strategis.
“Bagi kapal-kapal dari negara yang berkonflik dengan kami, selat ini akan ditutup. Itu adalah hal yang wajar dalam kondisi perang, dan kami tidak bisa membiarkan musuh memanfaatkan perairan kami untuk kepentingan dagang,” ujarnya menegaskan.




