Standard Chartered Prediksi Harga Emas 2026, Gencatan AS-Iran Sebagai Faktor Kunci

Jakarta – Pergerakan harga emas global berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Dalam konteks gejolak geopolitik dan dampak inflasi, arah pergerakan harga logam mulia ini sangat ditentukan oleh kemajuan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan informasi terbaru yang diperoleh pada Selasa, 21 April 2026, harga emas internasional mengalami penurunan sebesar 0,53 persen, sehingga diperdagangkan di angka US$4.784,06 atau sekitar Rp 81,98 juta (dengan estimasi kurs Rp 17.174 per dolar AS) per ons. Grafik menunjukkan bahwa harga logam kuning ini sempat mencapai level US$4.820 pada 14 April 2026.
Hal ini sesuai dengan temuan terbaru dari Standard Chartered, yang menunjukkan bahwa harga emas saat ini mulai menemukan level support di kisaran US$4.800 per ons. Namun, dalam jangka pendek, harga emas masih menghadapi kemungkinan tekanan akibat ketidakpastian yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah dan dinamika inflasi yang bergerak secara global.
Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas di Standard Chartered, menyatakan bahwa proyeksi harga emas ke depan sangat bergantung pada stabilitas situasi geopolitik. Menurutnya, gencatan senjata antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang mempengaruhi harga logam mulia ini.
“Dengan gencatan senjata yang masih rentan dan perhatian yang beralih kepada imbal hasil riil, emas belum sepenuhnya bebas dari tekanan. Kebutuhan likuiditas juga dapat memberikan dampak negatif pada harga,” jelas Cooper yang dikutip dari Kitco News pada Selasa, 21 April 2026.
Cooper juga menambahkan bahwa faktor struktural yang mendukung kenaikan harga emas masih cukup kuat. Ia memperkirakan bahwa harga emas akan kembali menguji level tertinggi dalam beberapa bulan mendatang, meskipun tantangan tetap ada.
“Namun, faktor pendorong struktural masih ada, dan kami memperkirakan emas akan melanjutkan tren kenaikan untuk menguji level tertinggi dalam waktu dekat,” ungkapnya.
Selain aspek geopolitik, sentimen inflasi juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan. Cooper menjelaskan bahwa saat ini, emas menunjukkan korelasi negatif sebesar 24 persen terhadap imbal hasil riil tenor lima tahun, berbeda dengan kondisi sebelum konflik yang cenderung netral.
“Pasar saat ini terbelah antara risiko inflasi dan kemungkinan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Emas biasanya lebih unggul saat inflasi meningkat secara signifikan atau ketika ekonomi AS memasuki fase resesi,” tambah Cooper.
Lebih lanjut, dia menilai bahwa pasar emas saat ini belum sepenuhnya merespons semua risiko yang ada. Oleh karena itu, masih ada potensi untuk kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang.




