Duel Seru Driver Ojol Melawan Begal di Tasikmalaya, Terjebak di Cekikan Tali Tambang

Aksi kejahatan dengan kekerasan, seperti pembegalan, kembali terjadi di Tasikmalaya. Seorang pengemudi ojek online (ojol) menjadi korban di Jalan Cisinga, Kecamatan Jamanis, pada Sabtu, 29 Agustus 2026, sekitar pukul 01.00 WIB.
Korban bernama Jonih Jaswara, seorang pria berusia 48 tahun yang tinggal di Kampung Cimuncang, Kelurahan Sukamulya, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya. Pada malam kejadian, Jonih sedang menunggu penumpang dengan sepeda motor Yamaha N-Max hitamnya di dekat Transmart Rancabango, Kota Tasikmalaya, sekitar pukul 00.05 WIB, ketika pelaku menghampirinya.
Pelaku yang diketahui berinisial GTW, seorang pria berusia 26 tahun dari Gunungcupu, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, menggunakan modus operandi dengan memesan layanan ojek secara langsung tanpa melalui aplikasi resmi. Ia meminta Jonih untuk mengantarnya ke Kiara Jangkung, Kabupaten Tasikmalaya.
Setelah tiba di Kiara Jangkung pada pukul 01.00 WIB, pelaku tidak memberikan instruksi untuk berhenti dan malah meminta Jonih untuk melanjutkan perjalanan ke Jalan Cisinga, Kecamatan Jamanis.
Ketika Jonih menghentikan motor untuk memarkirnya, GTW yang sudah keluar dari kendaraan secara tiba-tiba menyerang dengan mencekik leher korban menggunakan tali tambang, hingga membuat Jonih terjatuh ke tanah.
Dalam usaha untuk bangkit, Jonih melihat pelaku sudah berada di atas motornya dengan mesin yang masih menyala. Tanpa ragu, ia berusaha melawan dengan menarik setang motor dan memukul wajah GTW, sehingga memicu pertarungan fisik antara keduanya.
Merasa terdesak akibat perlawanan Jonih, GTW berusaha melarikan diri. Namun, beruntungnya, warga sekitar yang mendengar keributan segera bertindak dan berhasil menangkap pelaku.
Setelah ditangkap dan dibawa ke sel tahanan, GTW mengakui perbuatannya. Ia mengungkapkan bahwa aksi pembegalan tersebut sudah direncanakan bersama rekannya.
“Saya memang berniat membegal ojek online malam itu,” ungkap GTW. “Saya berangkat dari Rancabango, dekat lampu merah.”
Ia menjelaskan bahwa cara pemesanan yang dilakukan adalah dengan mendekati Jonih yang sedang ngetem di warung dan menawarkan orderan secara langsung. Setelah Jonih setuju, GTW kemudian membujuknya untuk mengikuti arah yang telah ditentukan.
Setelah menerima laporan dari masyarakat mengenai insiden tersebut, pihak kepolisian Polsek Ciawi segera mendatangi lokasi kejadian untuk mengamankan pelaku dari tindakan massa yang marah di sekitar Jalan Baru (JB) Ciawi.
Mengingat lokasi kejadian berada di wilayah hukum Kecamatan Jamanis, GTW kemudian diserahkan kepada Polsek Jamanis untuk melanjutkan proses penyelidikan lebih lanjut.
Kejadian ini menyoroti risiko yang dihadapi para driver ojol dalam menjalankan tugas mereka. Pembegalan menjadi salah satu ancaman serius yang bisa terjadi setiap saat, terutama di malam hari.
Berbagai langkah pencegahan perlu diambil oleh pihak berwenang untuk melindungi pengemudi ojek online. Dari peningkatan patroli keamanan hingga edukasi bagi para pengemudi tentang cara menghindari situasi berbahaya, semua ini sangat penting untuk mengurangi angka kejahatan.
Kepolisian juga diharapkan dapat bekerja sama dengan platform ojol untuk memberikan informasi yang lebih baik kepada pengemudi, termasuk mengenai area-area yang dianggap rawan kejahatan.
Pengemudi ojol perlu lebih waspada, terutama saat menerima penumpang yang tidak menggunakan aplikasi resmi. Keberanian Jonih dalam melawan pelaku layak dicontoh, namun seharusnya tindakan pencegahan dapat mencegah kejadian serupa.
Sosialisasi tentang cara aman berkendara dan mengenali tanda-tanda mencurigakan harus menjadi fokus, sehingga pengemudi dapat lebih siap menghadapi situasi yang berpotensi berbahaya.
Setiap pengemudi memiliki tanggung jawab untuk menjaga keselamatan diri, dan juga wajib untuk melaporkan setiap kejadian mencurigakan kepada pihak berwajib.
Dengan meningkatnya kesadaran dan tindakan proaktif, diharapkan insiden pembegalan terhadap driver ojol dapat diminimalisir, dan keamanan mereka saat bertugas dapat terjaga dengan lebih baik.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi telah mempermudah banyak hal, tantangan dan risiko tetap ada di dunia nyata, termasuk dalam profesi sebagai pengemudi ojek online.




