Iran Rincikan Kerugian Perang Capai Rp4.320 Triliun, Potensi Kenaikan Angka Masih Ada

Dampak dari konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang dimulai pada akhir Februari lalu telah menunjukkan konsekuensi yang sangat besar. Menurut pernyataan resmi Juru Bicara Pemerintah Iran pada 14 April, kerugian yang dialami akibat serangan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 270 miliar dolar AS, yang setara dengan Rp 4.320 triliun.
Fatemeh Mohajerani, yang terlibat dalam tim perunding Iran, mengungkapkan pada RIA Novosti Rusia bahwa salah satu fokus dalam negosiasi mereka, yang juga dibahas di Islamabad, adalah mengenai reparasi yang harus diajukan terkait kerugian perang ini. Pernyataan tersebut dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Tasnim dan juga dikutip oleh Anadolu Agency pada tanggal yang sama.
Mohajerani menekankan bahwa angka kerugian sebesar 270 miliar dolar tersebut masih bersifat sementara dan kemungkinan akan meningkat seiring dengan penilaian yang lebih mendalam.
“Kerugian yang dihadapi harus dianalisis melalui berbagai lapisan,” ungkapnya, menandakan kompleksitas dalam menilai dampak dari konflik ini.
Seperti yang diketahui, ketegangan di kawasan ini meningkat secara signifikan setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari, yang mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta melukai ribuan warga.
Sebagai reaksi terhadap serangan tersebut, Teheran melakukan serangan balasan ke sejumlah lokasi di Israel, Irak, Yordania, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Gencatan senjata yang diumumkan pekan lalu memberikan sedikit harapan setelah dua minggu ketegangan yang tinggi.
Setelah melakukan serangan, kedua negara sepakat untuk menghentikan permusuhan. Amerika Serikat dan Iran juga setuju untuk melanjutkan perundingan mengenai gencatan senjata di Islamabad pada akhir pekan lalu.
Sayangnya, pertemuan yang berlangsung selama 21 jam tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Dalam perkembangan yang lain, Trump merespons dengan menegaskan bahwa militer AS siap untuk mengambil tindakan tegas terhadap Iran pada saat yang dianggap tepat.
“Pada suatu saat, kita akan mencapai keadaan di mana semua pihak bisa beroperasi dengan bebas, tetapi Iran belum mengizinkan hal tersebut untuk terjadi,” ungkap Trump, seperti yang dilaporkan oleh Anadolu Agency pada 13 April.
Ia juga mengumumkan bahwa pasukan AS akan memulai langkah-langkah untuk memblokade setiap kapal yang mencoba berlayar masuk atau keluar dari Selat Hormuz.
“Saya telah memberikan instruksi kepada Angkatan Laut kami untuk mencari dan menghentikan setiap kapal di perairan internasional yang diketahui membayar pungutan kepada Iran. Tidak ada pihak yang membayar pungutan ilegal yang akan mendapatkan akses aman di laut lepas,” tambah Trump dalam pernyataannya.




