bisnis

Harga Minyak Global Meningkat Akibat Penolakan Iran Terhadap Kesepakatan dengan AS

Harga minyak mentah global mengalami pemulihan yang signifikan, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang dipicu oleh Iran. Negara tersebut menunjukkan ketidakberminatan untuk melanjutkan dialog yang mungkin mengarah pada penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat (AS).

Pada sesi perdagangan yang berlangsung pada 26 Maret 2026, harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, meroket sebesar 3,8 persen mencapai US$106,12, atau sekitar Rp 1,79 juta per barel dengan asumsi kurs Rp 16.910 per dolar AS. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat kenaikan yang signifikan sebesar 3,6 persen, menjadi US$93,61 per barel, setara dengan sekitar Rp 1,58 juta.

Kenaikan harga minyak global ini dipicu oleh pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menegaskan bahwa komunikasi yang dilakukan melalui mediator tidak bisa dianggap sebagai negosiasi langsung dengan AS. Selain itu, laporan dari media pemerintah Iran menyebutkan bahwa Teheran berencana untuk menolak tawaran gencatan senjata yang datang dari Washington dan telah menyiapkan sejumlah syarat untuk menyelesaikan konflik tersebut.

“Pertukaran pesan melalui mediator tidak berarti bahwa kami sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat,” ungkap Araghchi, seperti yang dilaporkan oleh media lokal Iran.

Pernyataan Araghchi semakin menegaskan adanya perbedaan pandangan antara kedua negara. Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, mengklaim bahwa saat ini Washington dan Teheran sedang dalam proses negosiasi.

“Kami sedang bernegosiasi saat ini,” kata Trump.

Trump juga menyatakan bahwa ia telah menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran terkait dengan proses negosiasi yang sedang berlangsung. Meski demikian, Iran tetap membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS, yang berdampak pada meningkatnya ketidakpastian di pasar energi global.

Analis dari TD Securities menilai bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik ini mungkin tidak langsung memicu respons agresif dari bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Mereka berpendapat bahwa meskipun pasar mulai memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga akibat meningkatnya ekspektasi inflasi, The Fed kemungkinan akan tetap mengambil pendekatan yang hati-hati.

“The Fed cenderung akan mengabaikan guncangan harga energi ini selama ekspektasi inflasi jangka panjang tetap stabil dan dampak yang ditimbulkan masih terkelola,” tulis analis dari TD Securities.

Bank investasi tersebut juga berpendapat bahwa The Fed cenderung akan mengadopsi sikap wait and see, dengan peluang kebijakan yang masih mengarah pada pemangkasan suku bunga pada paruh kedua tahun 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun harga energi mengalami lonjakan akibat ketegangan geopolitik, respons kebijakan moneter global tidak akan berubah secara drastis dalam waktu dekat.

Related Articles

Back to top button
slot qris depo 10k