Krisis Energi di Sri Lanka: Kuota Pembelian BBM Per Minggu Diterapkan

Pemerintah Sri Lanka telah menerapkan sistem penjatahan bahan bakar mingguan untuk kendaraan umum, menyusul meningkatnya kekhawatiran terkait pasokan minyak global yang semakin tidak menentu.
Sistem penjatahan ini, yang menggunakan kode QR sebagai metode verifikasi, mulai berlaku pada Minggu, 15 Maret, berdasarkan informasi dari media setempat.
Dalam mekanisme tersebut, alokasi bahan bakar diberikan sebanyak 15 liter untuk mobil, 5 liter untuk sepeda motor, 15 liter untuk kendaraan roda tiga, dan 60 liter untuk bus.
Warga tidak akan dapat membeli bahan bakar tanpa kode QR yang valid, dan semua pemilik kendaraan diwajibkan untuk mendaftarkan kendaraan mereka melalui situs resmi pemerintah.
Langkah ini diambil oleh pemerintah Sri Lanka untuk mencegah penimbunan bahan bakar dan aksi “panic buying”, serta untuk memastikan distribusi yang adil dari stok bahan bakar yang terbatas, sehingga kegiatan ekonomi dasar tetap dapat berlanjut.
Penerapan sistem kode QR ini menyebabkan antrean panjang di banyak stasiun pengisian bahan bakar di Sri Lanka, terutama pada hari pertama implementasi sistem tersebut.
Menurut keterangan pejabat setempat, Sri Lanka memiliki persediaan bahan bakar minyak untuk 27 hari dan bahan bakar diesel untuk 33 hari ke depan.
Lebih jauh, asosiasi dokter pemerintah Sri Lanka, GMOA, memberikan peringatan bahwa kuota bahan bakar yang ditetapkan tidak memadai bagi dokter untuk menjalankan tugas mereka secara efektif.
Juru bicara GMOA, dr. Chamil Wijesinghe, menyatakan bahwa alokasi 15 liter BBM per minggu untuk mobil masih kurang bagi tenaga medis dalam melaksanakan perjalanan dan merespons keadaan darurat.
Selain itu, banyak dokter yang tinggal jauh dari tempat kerja mereka dan sering diharuskan bekerja dengan sistem panggilan siaga, sehingga mereka perlu siap untuk bertindak dalam waktu singkat.
Di tengah kenaikan harga diesel dan kekhawatiran mengenai pasokan minyak, Kementerian Tenaga dan Energi Sri Lanka memastikan bahwa pasokan listrik negara tersebut akan tetap stabil.
Pejabat terkait juga menegaskan bahwa Sri Lanka memiliki cukup bahan bakar untuk operasional pembangkit listrik tenaga termal, sementara pembangkit listrik tenaga air dan tenaga surya turut berkontribusi dalam menjaga keamanan pasokan listrik.
Sri Lanka pun meningkatkan upaya diplomasi untuk memastikan tambahan pasokan bahan bakar dari negara-negara seperti India, Rusia, dan China.




