Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2027 memiliki peluang untuk mencapai 6 persen, sesuai dengan proyeksi yang tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Namun, terdapat tiga asumsi kunci yang perlu dipenuhi agar target ini dapat terwujud.
Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menyampaikan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional untuk 2027 diperkirakan berada dalam rentang 5,1 persen hingga 5,9 persen.
“Dalam mendukung tema strategi ekonomi dan fiskal 2027 yang berfokus pada pertumbuhan yang lebih tinggi dan kesejahteraan yang lebih cepat, kami melihat kemungkinan untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) dari kisaran 5,9 persen menuju 6 persen,” jelas Aida dalam Rapat Kerja (Raker) Banggar DPR RI di Jakarta, pada Kamis, 27 Agustus 2026.
Aida melanjutkan bahwa salah satu asumsi yang harus dipenuhi untuk mencapai pertumbuhan yang ambisius adalah perbaikan prospek ekonomi global. Jika kondisi ekonomi global membaik, diharapkan akan ada peningkatan dalam permintaan ekspor Indonesia serta aliran modal asing, termasuk investasi langsung dan portofolio.
Di samping itu, asumsi lainnya adalah peningkatan investasi yang berasal dari percepatan proyek strategis nasional dan optimalisasi penerimaan devisa hasil ekspor (DHE). Ini termasuk peningkatan inflow sebagai dampak dari pertumbuhan ekonomi serta berbagai langkah yang diambil pemerintah.
“Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat kolaborasi dan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas serta ketahanan nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” tambah Aida.
Secara umum, Aida menjelaskan bahwa prospek perekonomian global masih dipenuhi oleh berbagai risiko yang tinggi, terutama terkait dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang dapat mengganggu produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan antarnegara.
“Dengan perkembangan tersebut, kami memperkirakan prospek perekonomian di 2027 sedikit membaik menjadi 3,3 persen, dengan harapan adanya penurunan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Inflasi global diperkirakan akan terus berlanjut dan mendorong kebijakan moneter di seluruh dunia menjadi lebih ketat,” ungkap Aida.
Ia juga menambahkan bahwa suku bunga kebijakan moneter di Amerika Serikat (Fed Funds Rate) saat ini berada pada kisaran 3,5-3,75 persen, dengan kemungkinan akan meningkat pada triwulan IV 2026 dan tetap berada di level yang sama pada 2027. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) masih tinggi, termasuk indeks dolar AS terhadap berbagai mata uang lainnya.

