Kembali ke Linux: Pengalaman Buruk yang Menjadi Kesalahan Besar Saya

Ketika aku memutuskan untuk kembali ke Linux, aku tidak menyangka bahwa pengalaman ini akan menjadi salah satu keputusan yang penuh liku. Beberapa bulan yang lalu, aku dan beberapa rekan kerjaku, Nathan Edwards dan Stevie Bonifield, secara kebetulan menginstal sistem operasi yang sama. Momen ini bertepatan dengan keinginanku untuk menghidupkan kembali Dell XPS 15 yang sudah lama terabaikan, yang dulunya merupakan laptop canggih di tahun 2019.
Kembali ke Linux: Kenapa Aku Memilihnya?
Sebelum memutuskan untuk kembali ke Linux, aku sempat merasakan frustrasi yang luar biasa dengan performa Windows di laptop tersebut. Meskipun dilengkapi dengan prosesor Core i7 dan 32GB RAM, Windows terasa lambat dan tidak responsif. Yang lebih membuatku jengkel adalah kipas yang terus berputar dengan keras meskipun laptop dalam keadaan idle. Ditambah lagi, gagal menginstal pembaruan menjadi hal yang rutin. Akhirnya, aku menyerah dan beralih ke M1 MacBook Pro di awal tahun 2024.
Namun, ada satu alasan yang mendorongku untuk menggunakan kembali Dell XPS 15: aku ingin memberikan sesuatu bagi anak sulungku untuk berlatih mengetik. Di samping itu, aku merasa perlu untuk menemukan alternatif lain sebagai sistem operasi yang lebih ringan dan efisien.
Pengalaman Pertama dengan Ubuntu
Setelah mempertimbangkan beberapa opsi, aku memutuskan untuk menginstal Ubuntu. Awalnya, semua tampak berjalan lancar. Antarmuka yang bersih dan sederhana membuatku merasa nyaman. Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai masalah mulai muncul. Dari kesalahan yang tidak berguna hingga aplikasi yang tidak berfungsi dengan baik, pengalaman ini sangat berbeda dari harapanku.
Kesalahan yang Mengganggu
Satu hal yang sangat mengganggu adalah ketika Ubuntu mulai menunjukkan pesan kesalahan yang tidak jelas. Alih-alih membantu menyelesaikan masalah, kesalahan tersebut justru membuatku bingung dan frustrasi. Dalam dunia teknologi yang seharusnya mempermudah, kenyataan ini sangat mengecewakan.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Dari pengalamanku ini, ada beberapa pelajaran berharga yang bisa kita ambil. Pertama, penting untuk melakukan riset sebelum memilih sistem operasi. Setiap pengguna memiliki kebutuhan dan harapan yang berbeda. Selanjutnya, jangan ragu untuk mencoba berbagai distribusi Linux yang mungkin lebih sesuai dengan kebutuhanmu.
Mencari Alternatif
Jika kamu mempertimbangkan untuk kembali ke Linux, cobalah berbagai distribusi yang ada. Setiap distribusi memiliki kelebihan dan kekurangan, jadi penting untuk menemukan yang paling cocok untukmu. Jangan takut untuk beradaptasi dan bereksperimen dengan berbagai pengaturan.
Kesimpulan
Kembali ke Linux bisa jadi pengalaman yang menarik, tetapi juga bisa menghadirkan tantangan tersendiri. Pengalamanku dengan Ubuntu memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya persiapan dan penyesuaian. Meskipun aku mengalami kesulitan, aku tetap percaya bahwa ada jalan untuk menemukan sistem operasi yang ideal. Semoga kisahku ini memberi inspirasi dan informasi bagi kamu yang ingin menjelajahi dunia Linux lebih dalam.




