Teknologi 5G di Indonesia ternyata belum full manfaat, ini kendalanya

Pernahkah Anda merasa penasaran dengan janji kecepatan internet super cepat? Mungkin Anda sudah mendengar tentang jaringan generasi terbaru yang dijanjikan akan mengubah cara kita terhubung. Namun, kenyataannya di tanah air kita, manfaat penuh dari teknologi ini masih belum bisa dirasakan oleh banyak orang.
Sejak diluncurkan beberapa tahun lalu, harapan akan layanan yang lebih baik begitu besar. Sayangnya, berbagai kendala masih menghambat. Mulai dari cakupan wilayah yang terbatas hingga tantangan teknis yang kompleks.
Artikel ini akan membahas mengapa kita tertinggal dari negara tetangga. Kami akan mengungkap data dari operator seluler terkemuka dan asosiasi telekomunikasi. Mari kita simak bersama penjelasan detailnya!
Pengenalan Jaringan 5G Indonesia dan Potensinya
Teknologi generasi kelima membawa revolusi dalam dunia konektivitas. Jaringan ini menawarkan pengalaman berinternet yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Apa itu teknologi 5G dan keunggulannya
Generasi kelima jaringan seluler menghadirkan kecepatan luar biasa. Bisa mencapai ratusan Mbps, jauh melebihi kemampuan 4G. Latency yang rendah membuat respons lebih instan.
Kapasitas tinggi mendukung perangkat IoT dan aplikasi canggih. Smart cities, mobil otonom, dan realitas virtual akan terbantu. Transformasi digital menjadi lebih mungkin dengan teknologi ini.
Perkembangan awal 5G sejak 2021
Peluncuran perdana terjadi pertengahan 2021. Sayangnya, perkembangan berjalan lambat dibanding negara tetangga. Malaysia sudah mencapai 80% cakupan, sementara kita masih tertinggal.
Beberapa operator mulai menyediakan layanan di wilayah terbatas. Sebanyak 56 kota sudah bisa menikmati, termasuk Bali dan Jabodetabek. Fokus masih pada area strategis dengan potensi ekonomi tinggi.
Target pemerintah untuk cakupan nasional
Pemerintah menargetkan 30% wilayah terjangkau pada 2030. Kolaborasi kuat dari semua stakeholder sangat dibutuhkan. Kominfo berencana menyediakan infrastruktur untuk 13 wilayah prioritas di 2024.
Ibu Kota Negara dan destinasi wisata super prioritas menjadi fokus. Namun tantangan frekuensi dan spektrum masih menghambat. Penggunaan pita frekuensi yang ideal belum optimal.
Frekuensi ideal seharusnya 2.6 GHz, 3.5 GHz, dan 700 mhz. Sayangnya, operator masih menggunakan 1.8 GHz, 2.1 GHz, dan 2.3 GHz. Spektrum ini masih berbagi dengan jaringan 2G dan 4G.
Lebar pita yang dibutuhkan untuk optimal adalah 100 mhz. Tidak ada operator yang memilikinya saat ini. ATSI berharap harga perangkat terjangkau seperti transisi sebelumnya.
Kendala Utama Pengembangan 5G Indonesia

Meskipun teknologi generasi kelima sudah hadir, berbagai hambatan masih menghalangi pemanfaatan maksimal. Operator seluler menghadapi tantangan kompleks yang membutuhkan solusi strategis.
Keterbatasan spektrum frekuensi khusus
Masalah utama terletak pada alokasi frekuensi yang belum optimal. Banyak operator masih menggunakan pita 1.8 GHz, 2.1 GHz, dan 2,3 ghz yang harus berbagi dengan jaringan sebelumnya.
Padahal, jaringan generasi terbaru membutuhkan spektrum dedicated seperti 2.6 GHz atau 3.5 GHz. Kondisi ini membatasi performa maksimal yang seharusnya bisa dicapai.
Pembagian spektrum dengan jaringan 4G
Berbagi spektrum dengan teknologi sebelumnya menimbulkan konflik teknis. ATSI mengungkapkan bahwa pembagian ini mengurangi kinerja secara signifikan.
Pengalaman pengguna menjadi tidak maksimal karena kompetisi sumber daya. Wamenkomdigi Nezar Patria menyatakan bahwa layanan belum optimal untuk kebutuhan digital modern.
Lebar pita yang tidak optimal
Idealnya, jaringan ini membutuhkan lebar pita 100 mhz untuk performa terbaik. Kenyataannya, operator hanya menggunakan pita jauh di bawah angka tersebut.
Telkomsel contohnya, hanya memanfaatkan 30 MHz dari total 50 MHz yang dimiliki. Data menunjukkan kecepatan puncak 500-600 Mbps, tapi rata-rata hanya 100-200 Mbps.
Cakupan wilayah yang masih terbatas
Jangkauan jaringan masih terkonsentrasi di 56 kota saja. Fokus pengembangan baru menyentuh area strategis dengan potensi ekonomi tinggi.
Pembangunan infrastruktur masih tertinggal dibanding negara tetangga. Malaysia sudah mencapai 80% cakupan, sementara kita masih di bawah 10%.
Target pemerintah 30% cakupan nasional pada 2030 masih jauh dari kenyataan. Transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi pun terhambat.
Strategi Operator Seluler Mengatasi Kendala 5G

Menghadapi berbagai tantangan teknis, para penyedia layanan telekomunikasi mengembangkan strategi cerdas. Mereka berinovasi dengan pendekatan bertahap untuk memastikan layanan tetap optimal.
Penggunaan teknologi Non-Standalone (NSA)
Operator seperti Telkomsel memilih pendekatan Non-Standalone. Teknologi ini memungkinkan integrasi antara jaringan 4G dan generasi terbaru.
Dengan cara ini, layanan tetap berjalan mulus selama transisi. Pengguna tidak mengalami gangguan saat menikmati kecepatan lebih tinggi.
Kombinasi jaringan 4G dan 5G secara bersamaan
Kombinasi kedua jaringan memberikan keuntungan ganda. Infrastruktur existing dapat dimanfaatkan sambil memperkenalkan kemampuan baru.
Direktur Network Telkomsel Indra Mardiatna menjelaskan kepada CNBC Indonesia bahwa strategi ini efisien. Pemanfaatan frekuensi yang sudah ada menjadi kunci keberhasilan.
Ekspansi bertahap ke wilayah strategis
Pengembangan jaringan dilakukan secara bertahap di area prioritas. Bali dan Jabodetabek menjadi fokus utama dalam rencana ekspansi.
Targetnya adalah seluruh wilayah Jabodetabek dapat menikmati layanan dalam waktu dekat. Pendekatan ini memastikan kualitas layanan tetap terjaga.
Frekuensi yang digunakan operator saat ini
Berikut adalah detail frekuensi yang dimanfaatkan oleh operator utama:
| Operator | Frekuensi yang Digunakan | Lebar Pita untuk 5G | Kecepatan Rata-Rata |
|---|---|---|---|
| Telkomsel | 900 MHz, 1.8 GHz, 2.1 GHz, 2.3 GHz | 30 MHz dari 50 MHz | 100-200 Mbps |
| Operator Lain | 1.8 GHz, 2.1 GHz, 2.3 GHz | 20-40 MHz | 80-180 Mbps |
Strategi ini menghasilkan throughput sekitar 500-600 Mbps pada kondisi puncak. Meskipun belum ideal, angka ini cukup baik untuk sementara waktu.
Operator menunggu regulasi dan penambahan spektrum dari pemerintah. Lelang frekuensi 2.6 GHz atau 3.5 GHz sangat dinantikan untuk meningkatkan kapasitas.
ATSI menyatakan bahwa adopsi bisa dipercepat dengan spektrum dedicated. Harga perangkat yang terjangkau juga menjadi faktor penting.
Pengalaman transisi dari 3G ke 4G pada 2014-2018 menjadi pembelajaran berharga. Kolaborasi antara pemerintah dan stakeholder sangat essential untuk mencapai target cakupan.
Untuk memahami lebih dalam manfaat jaringan generasi terbaru bagi industri, kunjungi artikel khusus dari Telkomsel Enterprise.
Kesimpulan
Perjalanan menuju jaringan generasi terbaru masih menghadapi tantangan signifikan. Keterbatasan spektrum khusus dan infrastruktur menjadi hambatan utama yang perlu diatasi.
Operator seluler telah mengembangkan strategi cerdas dengan pendekatan bertahap. Mereka menggunakan kombinasi teknologi NSA sambil menunggu lelang spektrum dedicated dari pemerintah.
Kolaborasi antara semua pihak sangat penting untuk mempercepat adopsi. Target 30% cakupan nasional pada 2030 membutuhkan sinergi kuat dalam pengembangan infrastruktur.
Meski tertinggal dari negara tetangga, potensi transformasi digital tetap besar. Dengan strategi tepat, jaringan ini bisa menjadi katalis untuk masa depan yang lebih connected. Pelajari lebih lanjut tentang roadmap pengembangan infrastruktur digital untuk memahami perjalanan ke depan.




