Site icon Jadwal Bimtek LPPA KPD

Syekh Ahmad Al Misry Diduga Ajak Korban Tonton Video Tak Senonoh dengan Dalih Imam Syafi’i

Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan Syekh Ahmad Al Misry kembali menjadi perhatian publik. Isu ini mencuat setelah beberapa korban mulai memberikan pengakuan yang mengejutkan, menampilkan pola pendekatan yang diduga diterapkan oleh pelaku, serta tindakan yang memicu keprihatinan masyarakat luas.

Pengakuan dari perwakilan korban, Ustaz Abi Makki, mengungkap bahwa permasalahan ini sesungguhnya bukanlah hal baru. Ia menyampaikan bahwa kasus ini pernah ditangani secara internal pada tahun 2017, namun kini kembali mencuat ke permukaan.

Dalam penanganan sebelumnya, pelaku diduga telah meminta maaf di depan para guru. Meskipun demikian, perkembangan terkini menunjukkan bahwa dampak dari insiden ini masih membekas, dan kini kembali memicu sorotan publik.

Salah satu pengakuan yang paling mengejutkan adalah dugaan bahwa korban diajak untuk menonton tayangan yang tidak senonoh. Tindakan ini semakin menuai kecaman, terutama karena didukung dengan argumen yang dianggap tidak masuk akal dengan menarik nama Imam Syafi’i ke dalam konteks tersebut.

“Ada sejumlah korban yang diajak untuk melihat tayangan yang tidak layak. Ketika ditanya, ‘Kenapa menonton ini?’ jawabannya adalah, ‘Kalau Imam Syafi’i ada, pasti dia juga menonton ini.’ Ini sangat mengerikan dan sama sekali tidak dapat diterima,” ungkap Ustaz Abi Makki, seperti yang dikutip dari tayangan Youtube.

Tidak hanya itu, Ustaz Abi Makki juga menyoroti dugaan bahwa pelaku menggunakan narasi agama untuk meredam penolakan yang datang dari korban. Pernyataan ini sangat sensitif karena berkaitan dengan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Islam.

“Syekh Ahmad Al Misry pernah berkata kepada para korban, ‘Rasulullah juga melakukan hal ini dengan Ali bin Abi Thalib,’” ucap Ustaz Abi Makki.

“Pernyataan semacam itu yang membuat kami merasa tidak bisa menerimanya,” tambahnya dengan tegas.

Ustaz Abi Makki menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh Syekh Ahmad Al Misry biasanya dimulai dengan tawaran belajar ke luar negeri, terutama ke Mesir. Tawaran ini sangat menarik bagi santri yang bercita-cita untuk menimba ilmu di Timur Tengah.

“Dia menanyakan kepada santri, ‘Apakah kalian ingin belajar di Mesir?’ Tentu saja, bagi para santri, ini adalah kesempatan yang sangat diharapkan. Terlebih jika mereka bisa mendapatkan sanad dari hafiz Quran, yang menghubungkan mereka langsung kepada Rasulullah. Ini adalah kebanggaan tersendiri,” cerita Ustaz Abi Makki.

Exit mobile version