Jakarta – Sektor pariwisata dan proyek energi, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran yang terletak di kawasan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memiliki potensi besar untuk saling mendukung. Kolaborasi antara kedua sektor ini diharapkan dapat memaksimalkan manfaat yang dapat diperoleh dari keduanya.
Untuk mencapai sinergi tersebut, diperlukan dialog yang konstruktif serta kerja sama yang erat di antara semua pemangku kepentingan yang terlibat. Perencanaan yang matang akan sangat membantu dalam menyelaraskan pengembangan energi, pelestarian lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.
Bambang Mintosih, seorang pengamat pariwisata dan mantan Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), menekankan bahwa pengembangan sumber daya geothermal dan pariwisata harus dipandang dari perspektif pembangunan daerah yang terintegrasi.
Menurut anggota Dewan Penasihat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah, kehadiran energi bersih merupakan bagian penting dalam memperkuat fondasi pembangunan. Sementara itu, sektor pariwisata harus terus meningkatkan daya tarik serta menciptakan aktivitas ekonomi yang sesuai dengan karakter lokal.
“Buka ruang untuk dialog dan kolaborasi antara semua pihak yang berkepentingan,” ungkap Bambang dalam pernyataannya pada Jumat (16/10/2026).
Dia menegaskan bahwa pengembangan sektor pariwisata tidak hanya bergantung pada keindahan alam, tetapi juga perlu dilengkapi dengan beragam atraksi, kreativitas masyarakat, serta penguatan ekosistem usaha lokal yang ada.
Dalam konteks ini, pengembangan energi panas bumi harus direncanakan dan dikomunikasikan secara transparan agar semua kepentingan dapat dipertimbangkan. Hal ini termasuk mempertimbangkan keberlanjutan destinasi wisata dan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.
“Semua elemen dalam ekosistem pariwisata harus terlibat, mulai dari pengelola destinasi, pelaku perhotelan, pusat oleh-oleh, biro perjalanan, hingga komunitas lokal dan pemerintah. Dialog ini sangat penting untuk menemukan peluang, mengantisipasi tantangan, dan memastikan bahwa setiap upaya pembangunan memberikan nilai tambah bagi daerah,” jelas Bambang.
Dia juga berpendapat bahwa kawasan Bandungan dan sekitarnya memiliki potensi besar untuk meningkatkan pengalaman wisata melalui pengembangan wisata yang berbasis pada aktivitas dan kreativitas lokal.
Salah satunya adalah pengembangan sport tourism, yang menunjukkan prospek cerah seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap berbagai kegiatan olahraga. Penyelenggaraan event lari, misalnya, dapat menarik wisatawan lokal maupun asing, yang pada gilirannya dapat membantu menggerakkan ekonomi lokal.
Lebih lanjut, Bambang menyebutkan bahwa potensi kopi lokal, yang banyak dikembangkan oleh generasi muda dan pelaku kreatif, juga bisa diperkuat melalui pariwisata kuliner, wellness tourism, serta berbagai pengalaman wisata alternatif lainnya.
Dengan pendekatan yang terintegrasi dan melibatkan semua elemen masyarakat, sektor pariwisata dan energi dapat berkolaborasi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan yang menguntungkan semua pihak.

