Risiko Kehamilan Tanpa Perencanaan yang Harus Diketahui Setiap Perempuan

Perencanaan kehamilan merupakan aspek krusial yang mendukung kesehatan perempuan dan memastikan perkembangan optimal anak. Isu ini berhubungan erat dengan hak reproduksi perempuan untuk menentukan waktu yang paling tepat untuk memiliki anak.
Dengan perencanaan yang baik, perempuan dapat mempersiapkan diri dalam aspek fisik, mental, dan ekonomi sebelum memasuki masa kehamilan. Mari kita telusuri lebih lanjut mengenai hal ini!
Peringatan Hari Perempuan Internasional mengingatkan kita bahwa perempuan yang berdaya adalah mereka yang mampu mengontrol tubuh dan masa depannya. Salah satu bentuk pengendalian ini adalah kemampuan untuk merencanakan kehamilan dengan cara yang sadar dan bertanggung jawab.
“Keputusan tentang kapan waktu yang tepat untuk hamil adalah bentuk kontrol perempuan atas tubuh dan masa depannya. Proses kehamilan, yang melibatkan perubahan hormon hingga risiko kesehatan, dialami langsung oleh perempuan itu sendiri. Dengan perencanaan yang tepat, ibu dapat menyiapkan kondisi fisik, gizi yang memadai, dan jarak kehamilan yang aman. Secara mental, kehamilan yang direncanakan membuat ibu merasa lebih siap dan percaya diri. Ini bukan hanya sekadar menunda kehamilan, tetapi juga merupakan hak reproduksi yang komprehensif,” ungkap dr. Karen Denisa, Medical Associate Manager di PT Kalbe Farma Tbk.
Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa tingkat kehamilan yang tidak direncanakan di Indonesia masih tergolong tinggi, berkisar antara 10,7 hingga 15,5 persen dari total kehamilan. Ini berarti, dari setiap sepuluh kehamilan, satu hingga dua di antaranya terjadi tanpa perencanaan yang matang.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan bagi ibu dan bayi. Kehamilan yang terjadi tanpa adanya persiapan fisik atau jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi medis. Beberapa risiko yang sering muncul meliputi anemia pada ibu, persalinan prematur, dan bayi dengan berat badan lahir rendah.
“Dari perspektif medis, kehamilan yang tidak direncanakan dapat membawa berbagai risiko. Risiko utama adalah kondisi kesehatan ibu yang belum memadai, baik secara fisik maupun mental. Misalnya, jika ibu mengalami anemia atau sedang dalam masa pemulihan setelah persalinan sebelumnya, hal ini bisa berdampak pada perkembangan janin, seperti meningkatkan risiko persalinan prematur dan berat badan lahir rendah. Ketidaksiapan mental juga bisa memicu stres hingga depresi pasca-persalinan. Oleh karena itu, perencanaan keluarga sangat penting untuk melindungi kesehatan ibu dan bayi,” jelas dr. Karen.




