Gunung Anak Krakatau telah menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan sejak Jumat, 4 September 2026. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa frekuensi erupsi yang terus-menerus dalam beberapa waktu terakhir menjadi tanda jelas dari meningkatnya aktivitas gunung ini.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, dalam konferensi pers virtual pada Minggu, 6 September 2026, mengungkapkan bahwa ada beberapa kekhawatiran terkait aktivitas Gunung Krakatau. Peningkatan aktivitas saat ini sangat mencolok jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, terlihat dari erupsi yang terjadi secara berulang dan berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa suplai magma dan gas di dalam tubuh gunung masih aktif.
Meskipun terjadi erupsi yang cukup intens, Lana menegaskan bahwa frekuensi tinggi letusan tidak selalu menjadi indikator bahwa akan terjadi erupsi yang lebih besar.
“Seringnya erupsi tidak secara otomatis berarti adanya potensi erupsi besar di masa depan. Badan Geologi akan terus melakukan evaluasi atas perkembangan aktivitas ini berdasarkan data pemantauan yang komprehensif, bukan hanya dari jumlah atau tinggi kolom erupsi,” tambahnya.
Saat ini, potensi bahaya terbesar yang harus diwaspadai adalah lontaran materi pijar, aliran material pijar, batuan vulkanik, serta paparan gas vulkanik.
“Bahayanya mencakup lontaran materi pijar dan batuan vulkanik, abu vulkanik yang terkonsentrasi, gas vulkanik yang berbahaya, serta potensi aliran material erupsi di sekitar kawah dan tubuh Gunung Anak Krakatau,” jelas Lana lebih lanjut.
Ia juga mengingatkan bahwa lontaran material ini dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan yang berada dekat pusat aktivitas dan membahayakan siapapun yang memasuki zona terlarang. Aktivitas vulkanik di Anak Krakatau diperkirakan masih akan mengalami fluktuasi dalam waktu dekat.
“Fluktuasi dan peningkatan potensi ini disebabkan oleh adanya gempa frekuensi rendah dan hibrid, serta tremor yang signifikan. Jenis kegempaan ini menunjukkan adanya pergerakan atau pelepasan fluida vulkanik dalam sistem gunung api. Meskipun demikian, waktu, magnitudo, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan. Oleh karena itu, evaluasi dilakukan secara terus-menerus berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan,” pungkasnya.

