Site icon Jadwal Bimtek LPPA KPD

Perempuan Uighur Menikah dengan Pria Tiongkok Tanpa Melalui Ritual Islam yang Sah

Sebuah rangkaian video yang viral di Douyin menarik perhatian banyak pihak setelah menunjukkan puluhan perempuan Uighur yang menikah dengan pria etnis Han. Dalam video tersebut, mereka menyampaikan pernyataan yang hampir serupa mengenai cinta, kesetiaan, dan keyakinan pribadi. Media lokal Kashgar Times menyoroti kejanggalan yang muncul akibat keseragaman narasi ini, yang menimbulkan pertanyaan tentang kebenaran di balik ungkapan mereka.

Dalam setiap klip yang dipublikasikan, cerita yang disampaikan hampir identik. Para perempuan tersebut memulai dengan mengaku bahwa mereka menjadi sasaran serangan di dunia maya akibat keputusan mereka menikahi pria Han. Mereka menggambarkan tuduhan bahwa mereka telah mengkhianati bangsa, agama, atau leluhur mereka sendiri.

Selanjutnya, narasi dalam video beralih kepada pengakuan bahwa mereka tidak lagi menjalankan praktik Islam. Beberapa dari mereka bahkan menyatakan bahwa banyak generasi muda Uighur kini kehilangan kepercayaan terhadap agama. Klip-klip ini diakhiri dengan pernyataan bahwa keyakinan mereka kini telah beralih kepada Partai Komunis atau simbol nasional, serta klaim bahwa pernikahan tersebut berkontribusi pada “persatuan etnis”.

Frasa seperti “ini hidupku, ini kebebasanku” muncul secara berulang dalam berbagai video. Salah satu perempuan mengungkapkan bahwa ia memiliki “hati yang bersih” karena menganggap semua etnis di Tiongkok adalah “satu keluarga”. Ada juga yang menegaskan bahwa “keyakinannya adalah Partai Komunis,” dan ada pula yang menyatakan bahwa pernikahan dengan pria Han “harus lebih didorong.” Beberapa perempuan lain juga menggarisbawahi bahwa satu-satunya keyakinan yang mereka anut adalah bendera merah dengan bintang lima.

Kesamaan pola narasi ini memicu tanda tanya di kalangan pengamat. Terlebih, para perempuan yang tampil dalam video juga menceritakan pengalaman mereka menghadapi serangan daring, termasuk pesan pribadi yang berisi ancaman dan tuduhan sebagai pengkhianat. Namun, di Xinjiang yang dikenal dengan kontrol ketat terhadap ruang digital—terutama terkait isu agama dan identitas—klaim mengenai adanya gelombang kritik daring yang luas sulit untuk diverifikasi secara independen.

Narasi yang tersaji dalam video juga menempatkan pernikahan campur sebagai suatu kewajiban sipil. Hubungan ini tidak dipandang sebagai ikatan pribadi, melainkan sebagai kontribusi terhadap kohesi nasional. Para pengkritik digambarkan sebagai individu yang iri, bodoh, atau ekstremis—label yang memiliki konsekuensi serius di wilayah tersebut. Dalam konteks ini, perbedaan pendapat tidak dianggap sah, melainkan sebagai sesuatu yang perlu dilawan dengan perayaan dan dukungan terhadap pernikahan tersebut.

Exit mobile version