Iran tengah mengeluarkan pernyataan tegas tentang kesiapan mereka untuk menggunakan senjata baru dalam menghadapi konflik dengan pasukan Amerika Serikat dan Israel. Senjata ini diungkapkan memiliki potensi yang sangat mengkhawatirkan bagi lawan-lawannya, bahkan bisa menyebabkan efek psikologis yang serius.
Pernyataan ancaman ini muncul sebagai respons terhadap penolakan Presiden AS Donald Trump atas tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang disertai dengan imbalan pencabutan blokade yang diberlakukan oleh AS. Iran juga mengusulkan penundaan perdebatan mengenai program nuklir mereka. Namun, Trump memilih untuk melanjutkan kebijakan blokade di sekitar Selat Hormuz.
Laksamana Muda Shahram Irani, selaku Komandan Angkatan Laut Iran, mengungkapkan bahwa negara mereka akan segera menghadapi musuh dengan senjata yang sangat ditakuti oleh mereka. Pernyataan tersebut disampaikan melalui media resmi pemerintah.
“Senjata ini berada dalam jarak yang sangat dekat dengan mereka. Saya berharap mereka tidak mengalami serangan jantung,” ujarnya, merujuk pada senjata yang dimaksud dalam wawancara dengan NDTV pada 30 April 2026.
Irani juga menyindir strategi pemerintahan Trump yang berupaya menekan Iran melalui tekanan ekonomi, termasuk dengan membatasi perdagangan minyak Iran di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa musuh keliru jika mengira bahwa tindakan agresif tersebut akan menghasilkan hasil yang cepat.
“Anggapan semacam itu kini menjadi bahan tertawaan di kalangan akademi militer,” tegasnya.
Ia juga mengklaim bahwa angkatan bersenjata Iran telah meluncurkan setidaknya tujuh operasi rudal yang ditargetkan pada kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, yang menurutnya sempat mengakibatkan Amerika tidak dapat melaksanakan operasi udara dari kapal tersebut untuk sementara waktu.
Senjata baru Iran dan langkah-langkah serangan balasan menjadi sorotan penting dalam konteks ini.
Irani menyampaikan bahwa sejak AS dan Israel memulai tindakan permusuhan, pasukannya telah melaksanakan sedikitnya 100 gelombang serangan balasan terhadap sasaran strategis milik Amerika dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Salah satu langkah balasan yang signifikan adalah penutupan Selat Hormuz untuk kapal-kapal yang berafiliasi dengan musuh dan sekutunya. Selain itu, Iran juga memperketat aturan yang mengharuskan kapal-kapal memperoleh izin dari otoritas Iran sebelum melintasi perairan tersebut.
Tindakan ini dianggap sebagai respons terhadap tindakan AS yang telah lebih dulu memblokir kapal-kapal dan pelabuhan Iran di wilayah tersebut.
Irani menambahkan bahwa saat ini Iran telah menutup Selat Hormuz dari arah Laut Arab sebagai bagian dari strategi pertahanan mereka.

