bisnis

Houthi Serang Fasilitas Minyak Aramco Saudi, Harga Minyak Mungkin Naik Lagi

Harga minyak kembali menghadapi tantangan signifikan akibat perkembangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Kelompok Houthi mengklaim telah melancarkan serangan terhadap beberapa fasilitas minyak yang dimiliki oleh Saudi Aramco di Riyadh, Arab Saudi, dengan memanfaatkan rudal balistik dan drone.

Klaim tersebut muncul di tengah upaya pemulihan arus ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah yang perlahan-lahan mendekati situasi normal sebelum terjadinya konflik. Situasi ini membuat pasar semakin waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan, terutama jika serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak terus berlanjut.

Houthi mengumumkan pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026, bahwa mereka telah meluncurkan serangan terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco yang terletak di Riyadh. Dalam pernyataan mereka, kelompok ini mengklaim menggunakan beberapa rudal balistik dan drone, yang menyebabkan kebakaran di beberapa lokasi.

Meski demikian, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Juru bicara koalisi yang dipimpin Arab Saudi, Turki al-Maliki, menegaskan bahwa Houthi berusaha menciptakan apa yang disebutnya sebagai “kemenangan semu” di tengah kondisi tekanan yang dihadapi oleh kelompok tersebut.

Menurut Houthi, serangan ini merupakan reaksi terhadap serangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh Arab Saudi terhadap Sanaa dan daerah lainnya di Yaman. Mereka juga mengklaim telah menghadapi puluhan serangan udara dan rudal dalam 24 jam sebelumnya.

Kelompok ini kembali mengulangi narasi “blokade untuk blokade, eskalasi untuk eskalasi” dan menyatakan akan melanjutkan aksi eskalasi mereka hingga serangan oleh Saudi dihentikan dan pembatasan di wilayah yang dikuasai Houthi dicabut.

Perkembangan terbaru ini menjadi sorotan karena Arab Saudi sedang meningkatkan kembali distribusi minyak melalui jalur alternatif yang tidak sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz.

Pipa East-West Pipeline yang menghubungkan wilayah produksi minyak Arab Saudi dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah dilaporkan telah beroperasi di atas 80 persen dari kapasitasnya, yang mencapai sekitar 7 juta barel per hari. Saudi juga telah meningkatkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dan menghidupkan kembali aktivitas pemuatan di Yanbu.

Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada pemulihan ekspor minyak Timur Tengah, yang perlahan-lahan mendekati level sebelum terjadinya konflik bersenjata.

Data dari BigGo Finance menunjukkan bahwa pada bulan September, ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut mencapai setidaknya 16,5 juta barel per hari, meningkat sekitar 10,5 juta barel per hari dibandingkan dengan angka pada bulan Maret.

Related Articles

Back to top button
kpkgg