Harga Minyak Mencapai Hampir US$120 per Barel, Lonjakan Tertinggi dalam 40 Tahun Terakhir

Jakarta – Pasar saham di kawasan Asia mengalami tekanan signifikan setelah harga minyak global melonjak mendekati angka US$120 per barel, yang setara dengan sekitar Rp2.028.000, dengan asumsi kurs Rp16.900. Lonjakan harga energi ini telah memicu aksi jual besar-besaran di berbagai bursa utama di kawasan tersebut pada awal pekan ini.
Menurut laporan dari CNBC, lonjakan harga minyak ini terjadi akibat beberapa produsen besar di Timur Tengah yang memutuskan untuk memangkas produksi. Keputusan ini diambil setelah penutupan jalur pelayaran energi strategis di kawasan Teluk, yang semakin memperburuk situasi pasokan.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor mengenai pasokan energi global dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan. Salah satu bursa yang paling tertekan adalah indeks Kospi di Korea Selatan, yang mencatat penurunan signifikan.
Indeks acuan Kospi bahkan sempat memicu mekanisme penghentian perdagangan sementara, atau circuit breaker, setelah anjlok lebih dari 8 persen pada perdagangan Senin pagi. Ini menunjukkan seberapa besar dampak lonjakan harga minyak terhadap pasar.
Perdagangan di bursa terpaksa dihentikan selama sekitar 20 menit setelah indeks jatuh tajam pada pukul 10.31 waktu setempat. Pada akhir perdagangan, indeks Kospi tercatat mengalami penurunan sekitar 8,58 persen, mencerminkan tekanan yang cukup berat di pasar.
Penurunan yang tajam ini juga berdampak pada saham-saham teknologi besar di Korea Selatan. Misalnya, saham raksasa semikonduktor Samsung Electronics ikut merosot lebih dari 10 persen, sedangkan perusahaan chip SK Hynix mengalami penurunan sekitar 12,3 persen.
Koreksi yang tajam ini bukanlah yang pertama kali terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pada pekan sebelumnya, indeks Kospi juga sempat mengalami circuit breaker setelah anjlok lebih dari 12 persen dalam satu hari, mencatatkan penurunan harian yang terburuk dalam beberapa waktu.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang mengguncang pasar. Kontrak berjangka untuk minyak Brent tercatat melonjak 26,1 persen, mencapai harga US$116,08 per barel atau setara dengan sekitar Rp1.962.752. Di sisi lain, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat juga naik 27,6 persen menjadi US$116,03 per barel, yang setara dengan Rp1.961.907.
Kenaikan harga ini merupakan lonjakan harian terbesar sejak akhir 1980-an, berdasarkan data pasar yang ada. Lonjakan harga tersebut terjadi setelah beberapa produsen minyak besar di Timur Tengah, seperti Iran, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, memutuskan untuk mengurangi produksi minyak mereka.
Keputusan tersebut diambil setelah jalur distribusi energi yang sangat penting, Selat Hormuz, ditutup akibat meningkatnya konflik di kawasan tersebut. Ketegangan geopolitik yang terus meningkat membuat pasar global semakin waspada akan potensi gangguan pada pasokan energi.




