KH Abdussalam Shohib, yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Salam, baru-baru ini mengunjungi Pesantren Sukorejo yang terletak di Situbondo, Jawa Timur. Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu dengan KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy, yang akrab disapa Ra Azaim, serta Wakil Rais Aam PBNU, KH Afifuddin Muhajir.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian safari silaturahmi yang dilakukan Gus Salam selama dua hari ke berbagai masyayikh NU dan pesantren di wilayah Madura serta Jawa Timur.
“Saya mengikuti pengajian dalam majelis rutin alumni di Bangkalan. Selain itu, saya juga menyempatkan diri untuk bersilaturahmi kepada masyayikh sepuh di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Situbondo, dan selanjutnya menuju Paiton dan Sidoarjo,” ungkap Gus Salam dalam keterangannya.
Di Situbondo, Gus Salam berbagi tentang pengalaman ngaji yang dilakukannya bersama KH Afifuddin Muhajir. Ia menilai pandangan Kiai Afifuddin sangat luar biasa mengenai peran strategis Nahdlatul Ulama (NU) ke depan.
Gus Salam mengungkapkan bahwa KH Afifuddin Muhajir menyampaikan tiga pesan penting yang menegaskan peran dan arah perjuangan NU ke depan. Pertama, NU harus berfungsi sebagai benteng untuk Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah, menjadi penjaga moral bangsa, serta pelindung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Islam yang moderat mengajarkan prinsip rahmatan lil ‘alamin, menerima Pancasila sebagai bagian dari bingkai NKRI, serta memberikan teladan dalam berbangsa dan bernegara. Ini dapat berfungsi sebagai sistem pertahanan ideologis bagi negara,” tambah Gus Salam.
Ia juga menekankan pentingnya sikap yang kokoh dalam memegang prinsip, serupa dengan Gus Dur, namun tetap lentur dalam menghadapi dinamika. Gus Salam menegaskan bahwa NU harus terbuka dalam berpikir, tetapi tetap tidak melampaui batas akidah.
Selanjutnya, pesan kedua dari Kiai Afif, seperti yang disampaikan Gus Salam, adalah bahwa NU perlu memberikan fatwa secara berkala kepada umat terkait dengan berbagai masalah sosial keagamaan dan kebangsaan. Pesan ketiga menekankan bahwa NU harus mandiri dalam aspek ekonomi dan bersikap independen dalam konteks berbangsa dan bernegara, dengan tetap berpegang pada koridor fiqhiyyah.
“Seperti yang diajarkan Mbah Sahal Mahfudz dengan pendekatan fiqh sosialnya. Banyak kiai NU yang dengan literasi fiqhiyyah mereka dapat memberikan panduan kepada umat mengenai kemaslahatan di berbagai bidang, termasuk ekonomi, pertanian, pendidikan, lingkungan, kebudayaan, dan bahkan politik,” jelas Gus Salam.
Gus Salam berpendapat bahwa untuk mencapai kemandirian, NU harus memiliki kedaulatan dan tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain. Kemandirian tersebut bukan berarti menjauh dari pemerintah, melainkan menjadi mitra yang kritis, mendukung kebijakan yang bermanfaat, dan mengoreksi jika ada kebijakan yang merugikan.
Melalui tiga pesan penting KH Afifuddin Muhajir, Gus Salam menegaskan bahwa NU memiliki peran yang sangat strategis dalam membentuk masa depan bangsa dan menjaga nilai-nilai moral serta etika yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan memegang teguh prinsip-prinsip tersebut, NU diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam menghadapi tantangan zaman serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

