Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami aktivitas erupsi yang dimulai pada malam hari, Jumat, 4 September, dan berlanjut hingga keesokan harinya. Kejadian ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat tentang kemungkinan terjadinya tsunami di area sekitar Selat Sunda.
Menanggapi situasi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dari Badan Geologi Kementerian ESDM menegaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berpotensi menyebabkan tsunami.
Kepala PVMBG, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa hasil evaluasi menunjukkan bahwa volume tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk pasca-erupsi tanggal 22 Desember 2018 masih tergolong kecil. Oleh karena itu, tidak ada risiko keruntuhan besar yang dapat memicu tsunami.
“Setelah kami melakukan evaluasi, kami menilai bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini masih dalam skala yang tidak cukup untuk memicu tsunami,” ujar Rita dalam konferensi pers di Bandung pada hari Sabtu.
Ia menambahkan bahwa saat ini Gunung Anak Krakatau sedang dalam fase pembentukan kubah lava baru setelah sebelumnya mengalami runtuhan. Proses ini merupakan bagian dari siklus alami gunung berapi tersebut.
Dari hasil pemantauan yang dilakukan, perkembangan fisik Gunung Anak Krakatau masih berada dalam batas aman dan tidak menunjukkan tanda-tanda yang dapat memicu tsunami.
“Karena itu, kami ingin mengingatkan masyarakat agar tidak perlu merasa cemas. Insya Allah, perkembangan ini tidak akan menyebabkan tsunami,” tegasnya.
Meskipun demikian, Rita menekankan bahwa PVMBG akan terus memantau aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau secara berkala untuk memastikan keselamatan masyarakat.
“Kami berkomitmen untuk secara terus-menerus memantau perkembangan aktivitas dan juga morfologi dari Gunung Anak Krakatau ini,” jelasnya.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat dan pengunjung untuk selalu mematuhi rekomendasi keselamatan dengan tidak mendekati wilayah dalam radius tiga kilometer dari pusat kegiatan Gunung Anak Krakatau.
Selain itu, masyarakat diminta agar tetap waspada terhadap potensi bahaya seperti awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta kemungkinan hujan abu yang cukup lebat.
“Masyarakat diharapkan untuk tetap tenang dan melanjutkan aktivitas sehari-hari dengan mengikuti petunjuk dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat,” pungkas Rita.

