Site icon Jadwal Bimtek LPPA KPD

Gas SO2 dari Gunung Anak Krakatau: Memahami Potensi Bahayanya dan Penjelasannya

Pengguna media sosial saat ini tengah ramai membicarakan isu penyebaran gas sulfur dioksida (SO2) yang berasal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Berita mengenai sebaran gas ini viral di berbagai platform, menggambarkan area berwarna merah pekat yang meliputi wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Fenomena ini juga terpantau di daerah Lampung dan menjalar menuju Samudera Hindia.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan SO2 dan seberapa berbahayakah gas ini jika terhirup oleh manusia? Menurut penjelasan dari Badan Geologi Kementerian ESDM melalui akun Instagram resminya, SO2 atau sulfur dioksida adalah senyawa kimia yang berbentuk gas beracun. Meskipun tidak terlihat, gas ini memiliki aroma yang sangat menyengat, mirip dengan bau belerang.

Di sisi lain, Badan Geologi menegaskan bahwa tingkat bahaya dari SO2 sangat bergantung pada ketinggiannya di troposfer. Pada ketinggian tertentu, gas ini tidak langsung terhirup oleh masyarakat yang berada di permukaan. Mereka juga menjelaskan bahwa peta sebaran merah SO2 tidak serta merta menunjukkan bahwa udara di Jakarta berada dalam kondisi berbahaya.

“Peta merah ini tidak berarti bahwa udara di Jakarta berbahaya. Peta satelit tersebut menunjukkan jumlah SO2 di seluruh kolom atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan konsentrasi di permukaan yang kita hirup. Arti dari warna merah adalah anomali SO2 dengan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan udara normal di lapisan atmosfer, bukan angka kualitas udara di permukaan,” demikian penjelasan dari Badan Geologi yang dikutip pada tanggal 8 September 2026.

Meskipun demikian, Badan Geologi tetap menghimbau masyarakat untuk waspada terhadap bau SO2 yang mirip dengan belerang yang dihasilkan dari aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat disarankan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan selalu menggunakan masker saat beraktivitas.

“Jika Anda mencium aroma SO2 yang menyerupai belerang akibat aktivitas vulkanik, disarankan untuk menggunakan masker dan tetap berada di dalam rumah guna mengurangi paparan. Selain itu, hindari mengonsumsi air hujan karena dapat bersifat asam dan berpotensi merusak kesehatan,” imbuh penjelasan dari Badan Geologi.

Exit mobile version