Denada, penyanyi yang dikenal luas, baru-baru ini menghadapi kontroversi terkait gugatan hukum yang diajukan oleh putranya, Ressa Rizky Rossano. Dalam situasi yang penuh tantangan ini, Denada berusaha menunjukkan sisi lain dari ceritanya yang mungkin kurang dipahami oleh publik. Meskipun tidak selalu berada di samping Ressa secara fisik, ia menegaskan komitmennya sebagai orangtua dengan memenuhi tanggung jawabnya dalam hal pendidikan dan kebutuhan finansial putranya.
Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Feni Rose, Denada berbagi berbagai bukti komunikasi dengan ibunya, mendiang Emilia Contessa. Percakapan tersebut mengungkapkan bagaimana Denada secara rutin berdiskusi mengenai kebutuhan Ressa, termasuk biaya pendidikan yang sangat penting. Mari kita simak lebih dalam mengenai cerita ini.
“Uang yang aku berikan untuk Mama adalah bentuk ibadahku. Namun, uang untuk Ressa adalah sebuah tanggung jawab. Jadi, jika ada uang lebih untuk Mama, silakan simpan untuk keperluan pribadi. Aku akan terus mengirimkan uang untuk Ressa meskipun jumlahnya bervariasi,” ungkap Denada dalam video yang ditayangkan pada 17 Maret 2026.
Denada menekankan betapa pentingnya pendidikan bagi Ressa. Ia menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah menolak permintaan untuk membantu dalam pembayaran berbagai kebutuhan akademik putranya, termasuk biaya kuliah yang menjadi salah satu fokus utamanya.
“Termasuk biaya kuliah, Mama selalu meminta bantuan dariku. Setiap kali ada tagihan dari Ressa, itu langsung dikirimkan kepadaku. Semua biaya kuliah yang diminta oleh Mama, pasti aku kirimkan,” tegasnya sambil menunjukkan bukti transfer yang mendukung pernyataannya.
Ia juga mengenang tahun 2019 yang penuh tantangan ketika harus membagi perhatian antara membantu Ressa dan memenuhi biaya pengobatan putrinya, Aisyah, yang menjalani perawatan di Singapura. Dalam keadaan keuangan yang tidak stabil, Denada tetap berusaha sekuat tenaga untuk memberikan dukungan.
“Saat itu, Tante Ratih menghubungiku dan menjelaskan bahwa Ressa sedang berada dalam situasi yang memerlukan bantuan. Sementara itu, aku sendiri sedang mengalami kesulitan keuangan, bahkan menjual barang-barangku untuk mendapatkan uang,” kenang Denada dengan penuh emosi.
Ketika keluarga yang merawat Ressa menawarkan agar bantuan tersebut dianggap sebagai pinjaman yang bisa dipotong dari jatah bulanan, Denada dengan tegas menolak tawaran tersebut.
“Aku tidak pernah memotong. Tidak, itu untuk anak,” ujarnya singkat namun penuh makna.
Melalui penjelasan ini, Denada menunjukkan komitmennya yang kuat sebagai seorang ibu, meskipun situasi yang dihadapinya tidak selalu mudah. Dalam menghadapi berbagai tantangan, ia tetap berusaha untuk memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai orangtua dengan sebaik-baiknya.
Kisah Denada dan Ressa ini mencerminkan betapa kompleksnya hubungan orangtua dan anak, terutama dalam konteks tanggung jawab finansial dan pendidikan. Meskipun ada perbedaan pandangan dan tantangan yang harus dihadapi, harapan dan dukungan tetap menjadi pilar utama dalam hubungan mereka.
Dengan bukti transfer yang ditunjukkan Denada, publik dapat melihat upayanya dalam memenuhi tanggung jawabnya sebagai orangtua. Hal ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kontroversi, ada cerita dan perjuangan yang lebih dalam yang sering kali tidak terlihat oleh mata publik.

