Awal Mula Animal Crossing: Dari Dungeon Crawler Menjadi Game Simulasi Populer
Jika kamu adalah penggemar game, pasti sudah tidak asing lagi dengan Animal Crossing. Namun, tahukah kamu bahwa game ikonik ini memiliki awal perjalanan yang cukup unik? Animal Crossing, yang kini dikenal sebagai salah satu game simulasi paling populer, ternyata berawal dari konsep yang sangat berbeda: sebuah dungeon crawler. Mari kita telusuri bagaimana perjalanan menarik ini terjadi.
Dari Rindu Pulang ke Ide Game
Katsuya Eguchi, seorang desainer game yang bergabung dengan Nintendo pada tahun 1986, menghadapi tantangan ketika pindah dari Chiba ke Kyoto. Dalam sebuah wawancara, Eguchi mengungkapkan betapa sulitnya ia beradaptasi tanpa keluarga dan teman-teman di sekitarnya. Dari pengalaman tersebut, lahirlah ide untuk menciptakan sebuah game yang bisa merepresentasikan rasa kesepian dan kerinduan untuk berkumpul bersama orang-orang terkasih. “Saya ingin menemukan cara untuk menciptakan kembali perasaan itu,” katanya. Inilah yang menjadi cikal bakal Animal Crossing.
Evolusi Konsep Game
Sepanjang karirnya di Nintendo, Eguchi terlibat dalam banyak proyek, termasuk Super Mario Bros. 3 dan Star Fox. Namun, pada akhir 1990-an, ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan ide “game komunikasi”. Nintendo sedang mengerjakan add-on floppy disk untuk N64 yang disebut 64DD. Dengan penyimpanan yang cukup besar dan kemampuan untuk terhubung ke internet, 64DD memberikan potensi bagi sebuah game untuk beroperasi dengan jadwal waktu nyata. Ini adalah fitur yang akan menjadi salah satu pilar dalam Animal Crossing.
Meskipun Nintendo merayakan peluncuran 64DD dengan semangat, pada akhirnya, perangkat ini gagal di pasaran dan hanya terjual sekitar 15.000 unit. Namun, ide dasar Eguchi tentang game komunikasi tidak hilang. Game ini akhirnya dirilis pada tahun 2001 di N64 dengan nama Doubutsu no Mori, atau Animal Forest, yang menjadi game terakhir untuk konsol tersebut. Berbeda dengan perangkat kerasnya, game ini justru menjadi salah satu kesuksesan yang lambat tetapi pasti.
Animal Forest: Awal yang Tidak Biasa
Animal Forest, yang diperkenalkan kepada publik, memiliki konsep yang cukup aneh. Kamu akan tiba sebagai seorang pengembara di dunia yang dihuni oleh hewan-hewan, dan ditugaskan untuk membeli rumah dari Tom Nook, landlord bertipe kapitalis. Dalam game ini, setiap pemain memiliki kota unik yang bisa dihuni hingga empat orang. Pemain bisa menghias rumah, berinteraksi dengan hewan, dan melakukan aktivitas sehari-hari. Tidak ada tujuan akhir yang jelas; kamu hanya perlu “ada” di dalamnya, memeriksa setiap hari untuk melihat apa yang terjadi.
Ide ini ternyata sangat maju untuk zamannya. Ketika Animal Forest dirilis, teknologi belum sepenuhnya siap untuk mendukung ide-ide inovatif tersebut. Meskipun hanya terjual dua juta unit, setiap edisi baru dari game ini diluncurkan ke dunia yang semakin siap. Seiring berjalannya waktu, Animal Crossing mulai mendapatkan perhatian lebih, terutama ketika Wild World diluncurkan di Nintendo DS pada tahun 2005, di mana penjualan mendekati dua belas juta unit.
Menghadapi Kesulitan dan Menemukan Solusi
Pada akhir tahun 90-an, Eguchi telah membangun kehidupan di Kyoto dengan teman-teman dan keluarga. Namun, ia mengalami kesulitan baru: kesibukannya di kantor membuatnya sulit untuk bermain game bersama anak-anaknya. Ia menyadari bahwa banyak orang lain mungkin memiliki situasi serupa. “Saya merasa sedih tidak bisa bermain bersama anak-anak saya,” kata Eguchi. Dari sinilah muncul ide untuk menciptakan game yang memungkinkan seseorang untuk bermain meskipun mereka pulang larut malam.
Bersama rekan-rekannya, Eguchi mulai mengembangkan prototype yang awalnya berupa game petualangan multipemain. Dalam konsep ini, pemain dapat saling membantu satu sama lain, tetapi seiring berjalannya waktu, konsep ini berkembang menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih mendalam: Animal Crossing.
Insight Praktis tentang Animal Crossing
Animal Crossing bukan hanya sekadar permainan; ia menciptakan ruang di mana orang bisa merasakan kebersamaan meskipun terpisah jarak. Dalam dunia yang semakin terhubung, game ini menawarkan pengalaman yang mendalam tentang interaksi sosial dan kreativitas. Beberapa poin penting yang bisa kita ambil dari perjalanan Animal Crossing antara lain:
2. **Inovasi di Tengah Tantangan**: Meskipun dihadapkan pada berbagai kesulitan, ide-ide kreatif dapat berkembang menjadi sesuatu yang luar biasa.
3. **Adaptasi Teknologi**: Perubahan teknologi dapat membuka peluang baru, seperti pengenalan fitur waktu nyata dalam gameplay.
Kesimpulan
Perjalanan Animal Crossing dari konsep dungeon crawler hingga menjadi salah satu game simulasi paling dicintai menunjukkan kekuatan inovasi dan kreativitas dalam industri game. Katsuya Eguchi berhasil mengubah rasa sepinya menjadi sebuah pengalaman yang menyatukan orang-orang di seluruh dunia. Dari kehadiran hewan-hewan yang ramah hingga interaksi yang mendalam, Animal Crossing telah menjadi lebih dari sekadar permainan; ia adalah sebuah komunitas. Dengan peluncuran New Horizons yang mengguncang pasar pada tahun 2020, kita dapat melihat bagaimana visi awal Eguchi tentang menciptakan koneksi telah menjadi kenyataan, membantu banyak orang mengatasi rasa kesepian di masa-masa sulit.



