bisnis

AS-Iran Memanas, Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.000 per Dolar AS dalam Waktu Dekat

Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali tertekan oleh sentimen global menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan yang terjadi antara kedua negara ini menarik perhatian pasar, karena bisa memicu lonjakan harga minyak dunia dan berdampak pada nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, memproyeksikan bahwa rupiah akan mengalami pelemahan dalam perdagangan pada Jumat (2/10/2026). Ia berpendapat bahwa tekanan tersebut dipicu oleh semakin meningkatnya konflik antara AS dan Iran yang berpotensi memperbesar harga minyak di pasar global.

“Rupiah hari ini diprediksi akan melemah pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050, yang dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak global akibat eskalasi konflik AS dan Iran,” jelasnya.

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa rupiah berpotensi menembus level Rp18.000 per dolar AS. Pada pembukaan perdagangan Jumat, rupiah sempat mencatat penguatan sebanyak 11 poin atau 0,06 persen, menjadi Rp17.955 per dolar AS, setelah sebelumnya ditutup di Rp17.966 per dolar AS.

Sentimen di pasar valuta asing juga dipengaruhi oleh perkembangan terkini dalam konflik di Timur Tengah. Menurut laporan dari Anadolu, pemerintah Iran menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz akan bergantung pada keinginan Amerika Serikat untuk memberikan “jaminan objektif” demi mengakhiri konflik yang terjadi dan memenuhi komitmen yang diusulkan dalam inisiatif diplomatik tujuh hari oleh Teheran.

Iran juga mengajukan permintaan pencairan aset yang dibekukan, penghapusan blokade, serta pembebasan pembatasan terkait minyak, dan penghentian blokade di perairan.

Di sisi lain, Amerika Serikat baru saja mengumumkan serangkaian sanksi baru terhadap Iran yang menargetkan sektor perkeretaapian dan otomotif, serta jaringan perbankan bayangan yang diduga memiliki keterkaitan dengan Rusia.

Departemen Keuangan AS juga menjatuhkan sanksi kepada dua produsen mobil terbesar di Iran, yaitu Iran Khodro dan SAIPA, beserta sejumlah anak perusahaan mereka. Selain itu, perusahaan kereta api milik negara Islamic Republic of Iran Railway Company serta dua perusahaan kereta api lainnya juga masuk dalam daftar sanksi.

Sektor otomotif dan perkeretaapian Iran kini termasuk dalam daftar sanksi sektoral. Kebijakan ini memberi otoritas AS kekuatan untuk menargetkan individu maupun entitas yang beroperasi di industri tersebut.

Selain ketegangan antara AS dan Iran, Rully juga mencatat bahwa perubahan dalam kabinet pemerintahan Indonesia menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan oleh pasar. Hal ini terutama berkaitan dengan pengelolaan energi dan komoditas yang berhubungan langsung dengan neraca perdagangan negara.

Related Articles

Back to top button
kpkgg