Netanyahu Berikan Pernyataan Keras kepada Wali Kota New York Mamdani di Sidang PBB

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memanfaatkan kehadirannya di sidang umum PBB untuk melontarkan kritik tajam terhadap para pengkritiknya serta beberapa negara sekutu. Momen tersebut, yang terjadi pada hari Kamis waktu setempat, juga mengundang kericuhan yang cukup signifikan selama acara berlangsung.
Dalam pidatonya di hadapan Majelis Umum PBB, Netanyahu tidak segan-segan menyerang Wali Kota New York, Zohran Mamdani, serta sejumlah pengkritik Israel dan pemimpin Iran. Ia juga mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap negara-negara sekutu seperti Inggris dan Prancis yang dianggapnya mulai menjauh dari dukungan terhadap Israel.
Menarik untuk dicatat, saat Netanyahu memulai pidatonya, puluhan delegasi dari berbagai negara memilih untuk meninggalkan ruang sidang. Beberapa di antara mereka bahkan melontarkan sindiran dan ejekan. Di sisi lain, delegasi Netanyahu tetap berdiri dan memberikan tepuk tangan, meskipun pimpinan sidang meminta agar mereka bersikap tenang.
“Jika masih ada orang-orang pengecut bermoral yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan pergi sekarang,” ujar Netanyahu dengan tegas kepada mereka yang memilih untuk pergi, seperti yang dikutip dari laman berita terkemuka.
Dalam pidato itu, Netanyahu juga menyinggung mengenai konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada bulan Februari. Ia menyatakan bahwa menghancurkan fasilitas nuklir Iran adalah sebuah tantangan yang sangat sulit, namun baginya, itu merupakan salah satu keputusan termudah yang pernah diambil selama menjabat sebagai perdana menteri.
“Dari sudut pandang saya, membuat keputusan itu adalah hal yang relatif mudah,” ungkapnya, menegaskan keyakinannya akan pentingnya langkah tersebut.
Netanyahu kemudian mengklaim bahwa jika ia tidak mengambil keputusan tersebut, konsekuensinya akan sangat fatal, dengan banyak korban jiwa yang tidak bisa dihindari.
Di dalam pidatonya yang berlangsung di UNGA, Netanyahu juga menjelaskan bahwa Israel kini terlibat dalam konflik di tujuh lini pertempuran, yang mencakup Gaza, Tepi Barat yang diduduki, Suriah, Lebanon, Iran, kelompok Houthi di Yaman, serta milisi di Irak.
“Kami pasti akan menang. Kami tidak memiliki pilihan lain,” tegas Netanyahu dengan keyakinan yang kuat.
Baik Inggris maupun Prancis, yang selama ini dikenal sebagai sekutu tradisional Israel, tidak luput dari kritikannya. Kedua negara tersebut dianggap semakin berani dalam mengecam kebijakan Israel dan telah menerapkan beberapa sanksi terbatas terhadap ekspor dari Tepi Barat yang diduduki.
“Mereka menuduh kami, Israel yang kecil ini, melakukan tindakan kolonialisme. Dan siapa yang melontarkan tuduhan ini? Di antaranya adalah orang-orang dari Inggris dan Prancis. Demi Tuhan, mereka adalah pihak yang pertama kali menciptakan istilah tersebut,” sindir Netanyahu dengan nada penuh penekanan.




